Sejarah dan Perjalanan Berguru Gus Fik

Gus Fik sangat tertarik dengan dunia keruhanian sejak masih kanak-kanak.

Tiap hari, jika ada suara azan subuh berkumandang, Rofik kecil sontak terbangun dan langsung berangkat ke Langgar Manba’us Sa’adah Pulo Pancikan Gresik. Yang biasa melantunkan azan waktu itu kebetulan adalah seorang murid daripada KH Oesman Al Ishaqi q.s.

Beranjak dewasa, rajin mengikuti acara Diba’an dan Burdah yang diadakan di langgar tersebut. Kegiatan-kegiatan dalam jamaah ke-NU an yang ada dan lazim dilakukan di kampung kelahirannya tersebut, selalu rutin diikuti. Masjid Jamik Gresik merupakan area tuju rutin Rofik di masa kecil jika misalnya tidak ber-subuh di Langgar. Atau mendadak terbangun lebih awal dari jam waktu subuh lebih lama.

Isitghatsah yang biasa di helat oleh jamaah Al Khidmah, selalu rajin di ikuti jika waktu dan kondisi Gus Fik memungkinkan.

Dari sisi nenek putri, Masayu, ada nasab tersambung ke Kyai Zubair Kauman. Meski mungkin saat ini sudah tidak begitu bisa ditelusuri lebih lanjut. Pun, dari sisi Buyut, Musyarafah, yakni dari sisi kakek, Moehammad Amien, ada nasab tersambung ke Gumena, dimana banyak keturunan Sunan Dalem ada disana.

Singkat cerita, pada 1999 Gus Fik mulai memasuki dunia thariqat Naqsabandiyah secara tidak sengaja, karena ada dorongan batin, dan tersiar kabar, bahwa siapapun yang masuk dalam Thariqat tersebut ilmu gaibnya apapun akan luntur. Gus Fik sangat penasaran ingin membuktikan kabar tersebut. Karena Gus Fik memang sudah terbiasa melakukan laku tirakat kejadugan dan macam-macam ilmu kanuragan lain.

Prosesi mantapnya hati tidak berlangsung lama, tanpa perlu argumentasi dan informasi yang mendetail, Gus Fik saat itu hanya ingin melihat dan mengetahui wajah Sang Guru. Sontak spontan ketika diperlihatkan wajah Sang Guru, seketika langsung terhentak untuk masuk dalam baiat dalam metodologi (thariqat) yang sanadnya sangat jelas ini.

Prosesi masuknya Gus Fik dalam berthariqat di wilayah Rengel Tuban, di sebuah Surau sederhana dengan diimami dan di talqini oleh Bapak Camat Gresik waktu itu, Bapak H. Bagio. Pengalaman ini sungguh pengalaman terkeren yang tidak akan terlupakan seumur hidup, bagaimana prosesi ‘penanaman’ nur dzikrullah yang terjadi dalam jangka waktu semalam yang menimbulkan sensasi keruhanian yang amat sangat menggembirakan. Momen mengesankan ini terjadi pada tahun 1998 pada saat usia Gus Fik masih 21 tahun.

Tenyata yang menjadi Mursyid Thariqat waktu itu adalah Yang Mulia Ayahanda Guru, Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya Muhammad Amin Al Khalidi An-Naqsabandi. Professor Ahli Fisika Kimia sekaligus veteran Mayor Jenderal TNI yang sangat berwibawa dan disegani.

Berikut sekilas biografi Mursyid daripada Gus Fik

Prof. Dr. H. Saidi Syaikh Kadirun Yahya Muhammad Amin Al Khalidi (lahir di Pangkalan Brandan, Sumatera Utara 1917 – meninggal di Arco, Depok, Jawa Barat 2001, pada usia 84 tahun) adalah seorang ulama tasawuf atau tokoh sufi kharismatik dari Indonesia. Ia adalah mursyid Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah, salah satu tarekat terbesar di Indonesia, di mana tarekat yang dipimpinnya berkembang pesat di dalam maupun luar negeri. Lebih dari 700 tempat dzikir/surau/alkah telah didirikan, dan setiap tahunnya diselenggarakan kegiatan suluk (i’tikaf, ibadah dan dzikir intensif selama 10 hari) hingga 10 kali di berbagai tempat, di Indonesia dan Malaysia[1].

Syaikh Kadirun Yahya adalah salah satu ulama tarekat yang dinilai berhasil memadukan antara ilmu dzikir serta ilmu pengetahuan dan teknologi modern.[2] Ia banyak membuat tulisan-tulisan ilmiah, serta menjadi pemakalah dan pembicara dalam berbagai forum ilmiah, untuk menyampaikan gagasan dan pemikirannya mendeskripsikan tarekat dalam bahasan sains, yang disebutnya sebagai “Teknologi Metafisika A-Qur’an”. Pemikiran, sosok kepribadian, dan pola dakwah Syaikh Kadirun Yahya yang unik dan berbeda dengan ulama-ulama pada umumnya ini, juga telah banyak diteliti dan ditulis para akademisi, peneliti, dan penulis, baik dari Indonesia maupun luar negeri.

Syaikh Kadirun Yahya juga memiliki perhatian khusus terhadap dunia pendidikan. Ia mendirikan lembaga pendidikan dari Taman Kanak-Kanak, SD, SMP, SMA, SMK, sampai dengan Perguruan Tinggi di Medan.[3] Pada tahun 1956, ia mendirikan Akademi Metafisika, yang pada tahun 1961 berubah nama menjadi Universitas Pembangunan Panca Budi. Di perguruan tinggi ini Syaikh Kadirun Yahya telah mengembangkan Fakultas Ilmu Kerohanian dan Metafisika, untuk merumuskan ilmu kerohanian (agama) dan sains dalam kerangka berpikir ilmu pengetahuan.

Syaikh Kadirun Yahya dilahirkan di Pangkalan Brandan, Sumatra Utara, pada tanggal 20 Juni 1917 bertepatan dengan 30 Sya’ban 1335 H dari ibu yang bernama Siti Dour Aminah Siregar dan ayah yang bernama Sutan Sori Alam Abdullah Harahap. Ayah Syaikh Kadirun Yahya adalah seorang pegawai perminyakan (BPM) Pangkalan Berandan yang berasal dari kampung Sikarang-karang, Padang Sidempuan. Keluarga besarnya adalah keluarga islamis religius yang ditandai dengan nenek dari pihak ayah dan ibunya adalah dua orang Syaikh Tarekat, yaitu Syaikh Yahya dari pihak ayah dan Syaikh Abdul Manan dari pihak ibu.[2] Keluarga ini sering dikunjungi oleh para Syekh pada zaman dahulu.

Prof. Dr. H. Saidi Syaikh Kadirun Yahya mengenal tarekat pada tahun 1943-1946 melalui seorang khalifah dari Syaikh Syihabuddin Aek Libung (1892-1967) yang berasal dari Sayur Matinggi, Tapanuli Selatan.[5] Pada waktu itu masa pergolakan (penjajahan Jepang) dan ia belum terlalu mendalami tarekat.

Pernikahan Syaikh Kadirun Yahya muda dengan putri Syaikh Haji Jalaluddin yang bermukim di Bukit Tinggi, yang kala itu merupakan tempat pertemuan para syaikh tarekat, memberinya peluang untuk memperdalam tarekat.[6] Melalui mertuanya inilah Syaikh Kadirun Yahya muda akhirnya berkenalan dengan Syaikh yang kelak menjadi guru utamanya, yaitu Saidi Syaikh Muhammad Hasyim Buayan, di mana Syaikh Muhammad Hasyim Buayan mendapatkan ijazah tarekat Naqsyabandiyah dari Syaikh ‘Ali al-Rida di Jabal Abu Qubays, Mekkah, yang dibantu oleh Syekh Husain. Keduanya adalah khalifah dari Syekh Sulaiman al-Zuhdi.[7]

Pada tahun 1947, Syaikh Kadirun Yahya muda hadir di rumah murid Saidi Syaikh Muhammad Hasyim, di Bukit Tinggi, Sumatra Barat. Ketika itulah ia pertama sekali mengikuti kegiatan tawajuh atau zikir berjamaah yang dipimpin oleh Saidi Syaikh Muhammad Hasyim, seorang syaikh tarekat Naqsyabandiyah yang tinggal di nagari Buayan Lubuk Aluang, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat.

Saidi Syaikh Muhammad Hasyim Buayan adalah orang yang disiplin dalam melaksanakan ketentuan tawajuh, dan biasanya siapa saja yang belum ikut tarekat belum diperbolehkan ikut dalam kegiatan ini. Tetapi pada waktu tawajuh hendak dilaksanakan, saat itu Saidi Syaikh M. Hasyim Buayan melihat Kadirun Yahya muda, dan membolehkannya ikut tawajuh dengan diajarkan kaifiat (tata cara) singkat oleh khalifahnya pada saat itu juga. Ini merupakan peristiwa yang langka terjadi pada murid Tarekat Naqsyabandiyah seperti yang terjadi atas diri Syaikh Kadirun Yahya, yaitu belum memasuki tarekat tetapi sudah mengikuti kegiatan tawajuh.

Dalam situasi Agresi Militer Belanda II, pada tahun 1949 Syaikh Kadirun Yahya mengungsi ke pedalaman Tanjung Alam, Batu Sangkar, Sumatera Barat. Di sini ia mencari sebuah masjid/surau, untuk shalat dan berdzikir, selama berjam-jam, berhari-hari. Pada suatu hari datanglah ke Masjid tersebut sekelompok orang dengan maksud melaksanakan khalwat/suluk, yang dipimpin oleh seorang khalifah dari Syaikh Abdul Majid Tanjung Alam (1873-1958), seorang Syaikh dari Guguk Salo (Tanjung Alam, Batusangkar) yang juga dikenal dengan sebutan Syaikh Abdul Majid Guguk Salo. Khalifah dari Syaikh Abdul Majid ini meminta agar Syaikh Kadirun Yahya memimpin suluk tersebut, dan semula ditolaklah permintaan tersebut. Tetapi setelah berkonsultasi lebih lanjut, maka ia bersedia dengan syarat harus ada izin dari Syaikh Muhammad Hasyim. Setelah mendapatkan izin barulah ia memimpin suluk. Ini merupakan sebuah peristiwa yang langka, di mana Syaikh Kadirun Yahya belum pernah mengikuti suluk, tetapi diberi kepercayaan dan amanah untuk mensulukkan orang.

Setelah kejadian tersebut, Syaikh Kadirun Yahya menemui Syaikh Abdul Majid untuk meminta suluk. Setelah suluk berakhir, ia mendapatkan satu ijazah dari Syaikh Abdul Majid. Menurut menantu/wakil/penjaga suluk yaitu khalifah H. Imam Ramali, Syekh Abdul Majid Guguk Salo pernah berkata bahwa Syaikh Kadirun Yahya, adalah orang yang benar-benar mampu melaksanakan suluk dan kelak akan dikenal diseluruh dunia sebagai pembawa tarekat Naqsyabandiyah.

Selanjutnya Syaikh Kadirun Yahya, kembali menjumpai Saidi Syaikh M. Hasyim Buayan untuk mempertanggung jawabkan kegiatan beliau yang “di luar prosedur lazim” tersebut dan sekaligus meminta suluk. Hal ini diperkenankan oleh Saidi Syaikh M. Hasyim Buayan dengan langsung membuka suluk.

Selama gurunya masih hidup, setiap minggu Syaikh Kadirun Yahya berziarah kepada Saidi Syaikh M. Hasyim Buayan (tahun 1950–1954). Setelah gurunya wafat, ziarah tetap dilanjutkan antara 1 (satu) sampai dengan 3 (tiga) kali dalam setahun. Pada tahun 1950, Saidi Syaikh M. Hasyim Buayan mengangkat Kadirun Yahya menjadi khalifah. Pemberian ijazah kepada Kadirun Yahya sekaligus menempatkannya dalam daftar silsilah ke-35 dalam urutan silsilah Tarekat Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah. Dua tahun kemudian Syaikh Kadirun Yahya mendapatkan predikat syaikh penuh dengan gelar Saidi Syaikh.[8]

Penilaian Saidi Syaikh M. Hasyim Buayan tentang Syaikh Kadirun Yahya adalah: Saidi Syaikh Kadirun Yahya, mendapatkan apresiasi tinggi, antara lain dari segi ketakwaan, kualitas pribadi dan kemampuan melaksanakan suluk sesuai dengan ketentuan akidah dan syariat Islam. Syaikh Kadirun Yahya, menjadi satu-satunya murid Saidi Syaikh M. Hasyim Buayan yang diangkat menjadi Saidi Syaikh di makam gurunya, yaitu Saidi Syaikh Sulaiman al-Khalidi Hutapungkut (1841-1917) di Hutapungkut, Kota Nopan, Mandailing Natal, Sumatera Utara, dan diumumkan ke seluruh Negeri.

Dalam Ijazah Syaikh Kadirun Yahya dicantumkan kata-kata, “Guru dari orang-orang cerdik pandai, Ahli mengobat”, yang baru beberapa puluh tahun kemudian terbukti kebenarannya. Syaikh Kadirun Yahya diberi izin untuk melaksanakan dan menyesuaikan segala ketentuan Tarekat Naqsyabandiyah dengan kondisi zaman, sebab semua hakikat ilmu telah dilimpahkan gurunya padanya.[9]

Pada suatu saat yang lain, Syaikh Syihabuddin Aek Libung Sayur Matinggi juga memberikan ijazah dan pengakuan sebagai syaikh Tarekat kepada Syaikh Kadirun Yahya[10]. Syaikh Syihabuddinn Aek Libung Sayur Matinggi pernah berkata kepada anak kandungnya yang menjaga suluk, yaitu Syaikh Husein, bahwa muridnya yang benar-benar dapat menegakkan Suluk adalah Syaikh Kadirun Yahya. [11]

Pada tahun 1969, Syaikh Kadirun Yahya berziarah dan bertemu dengan Syaikh Muhammad Said Bonjol. Syaikh Muhammad Said Bonjol memutuskan untuk memberikan kepada Syaikh Kadirun sebuah benda berwujud semacam mahkota yang konon telah berusia lebih dari 300 tahun, yang dititipkan oleh guru Syaikh Muhammad Said Bonjol, yaitu Syaikh Ibrahim Kumpulan, di mana Syaikh Ibrahim Kumpulan juga mendapatkannya dari gurunya, yaitu Saidi Syaikh Sulaiman Al Qarimi (Jabal Abu Qubaisy, Mekkah), dengan pesan agar kelak diberikan kepada “seseorang yang pantas, yang memiliki tanda-tanda tertentu”. Puluhan tahun berlalu, barulah “orang yang pantas” tersebut ditemukan oleh Syaikh Muhammad Said Bonjol, yaitu Syaikh Kadirun Yahya.

Genealogi Kemuttashilan Sanad/Silsilah Tarekat Naqsyabandiah Al-Khalidiah


Prof. DR. H. Sayyidi Syeikh Kadirun Yahya Muhammad Amin, Mursyid Tarekat Naqsyabandiyah Al-Khalidiah
Prof. DR. H. Saidi Syeikh Kadirun Yahya Muhammad Amin, Mursyid Tarekat Naqsyabandiyah Al-Khalidiah (Dok. Yayasan Prof. DR. H. Kadiurn Yahya)
Prof. Dr. H. Saidi Syaikh Kadirun Yahya sebagai Mursyid Tarekat Naqsyabandiah Al-Khalidiah dengan silsilah keguruan[12] sebagai berikut:

Sayyidina Abu Bakar Siddiq r.a
Sayyidina Salman Al-Farisi r.a
Al Imam Sayyidina Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Siddiq r.a
Al Imam Sayyidina Ja’far Ash Shadiq r.a
Al ‘Arif Billah Sultanul Arifin Asy Syaikh Thaifur bin Isa bin Adam bin Sarusyan, yang dimasyhurkan namanya Asy Syaikh Abu Yazid Al-Bustami Quddusu Sirruhu (qs)
Asy Syaikh Abul Hasan Ali bin Abu Ja’far Al Kharqani qs
Asy Syaikh Abu Ali Al-Fadhal bin Muhammad Aththusi Al-Farimadi qs
Asy Syaikh Abu Yaqub Yusuf Al-Hamadani bin Ayyub bin Yusuf bin Al-Husain qs dengan nama lain Abu Ali Assamadani
Asy Syaikh Abdul Khaliq Al-Fajduwani Ibnu Al Imam Abdul Jamil qs
Asy Syaikh Arif Riwgari qs
Asy Syaikh Mahmud Al-Injir Al-Faghnawy qs
Asy Syaikh Ali Ar-Ramitany yang dimasyhurkan namanya dengan Asy Syaikh Azizan qs
Asy Syaikh Muhammad Baba As-Samasi qs
Asy Syaikh Sayyid Amir Kulal bin Sayyid Hamzah qs
Asy Syaikh As Sayyid Muhammad Baha’uddin Bin Muhammad Bin Muhammad Asy Syarif Al Husaini Al Hasani Al Uwaisi Al Bukhari q.s
Asy Syaikh Muhammad Al-Bukhari Al-Khawarizumi yang dimasyhurkan namanya dengan Asy Syaikh Alauddin al-Aththar qs
Asy Syaikh Ya’qub Al-Jarkhi qs
Asy Syaikh Nashiruddin Ubaidullah Al-Ahrar Assamarqandi bin Mahmud bin Shihabuddin qs
Asy Syaikh Muhammad Az-Zahid qs
Asy Syaikh Darwis Muhammad Samarqandi qs
Asy Syaikh Muhammad Al-Khawajaki Al-Amkani Assamarqandi qs
Asy-Syaikh Muayyiduddin Muhammad Al-Baqi Billah q.s
Asy Syaikh Ahmad Al Faruqy As Sirhindy qs
Asy Syaikh Muhammad Ma’shum qs
Asy Syaikh Muhammad Saifuddin qs
Asy Syaikh Asy-Syarif Nur Muhammad Al-Badwani qs
Asy Syaikh Syamsuddin Habibullah Jan Janan Muzhhar Al-‘Alawi qs
Asy Syaikh Abdullah Ad-Dahlawy Al-‘Alawy qs
Asy Syaikh Dhiyauddin Khalid Al-Utsmani Al-Kurdi qs
Asy Syaikh Abdullah Affandi qs
Asy Syaikh Sulaiman Al-Qarimi qs
Sayyidi Syaikh Sulaiman Az-zuhdi qs
Sayyidi Syaikh Ali Ridha qs
Sayyidi Syaikh Muhammad Hasyim Al-Khalidi qs
Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya Muhammad Amin Al-Khalidi qs

Surau adalah tempat pembinaan murid-murid Tarekat Naqsyabandiah yang dipimpin oleh Prof. Dr. H. Saidi Syaikh Kadirun Yahya. Pada tahun 1950, Prof. Dr. H. Saidi Syaikh Kadirun Yahya mulai merintis sebuah surau di Bukit Tinggi. Di tempat ini juga pertama sekali beliau mengadakan suluk secara resmi atas izin dari gurunya, Syaikh Muhammad Hasyim Buayan. Pada tahun 1955, Syaikh Kadirun Yahya pindah ke Kampus SPMA Negeri Medan, sehingga aktivitas kesurauan juga ikut dipindahkannya ke tempat tersebut. Di tempat ini pula kelak berdiri Universitas Pembangunan Panca Budi sedangkan SPMA Negeri pindah ke Jln. Gatot Subroto Km. 12, Medan.

Latar belakang Prof. Dr. H. Saidi Syaikh Kadirun Yahya, yang ilmuwan Fisika – Kimia, menguasai Bahasa Inggris, Jerman dan Belanda, serta menekuni Ilmu Filsafat Kerohanian dan Metafisika Islam khususnya Tasawuf dan Tarekat, telah mewarnai syiar perkembangan Tarekat Naqsyabandiyah di masanya.[13]

Syaikh Kadirun Yahya pernah mengatakan, “Sewaktu manusia masih sederhana pemikirannya, agama tak mungkin diterangkan secara ilmiah yang sempurna. Walaupun sebenarnya Islam sebagai agama yang ilmiah dan amaliah. Oleh karena itu, sebagian besar agama diajarkan secara dogmatis dan kepercayaan semata-mata. Hanya sebagian kecil saja agama diajarkan secara ilmiah popular. Dengan meningkatnya ilmu pengetahuan, semakin nyata bahwa Islam adalah agama yang sangat ilmiah.”[14]

Dalam berbagai kajiannya, ia menyampaikan bahwa kekuatan agama sebagai sesuatu yang nyata, fakta dan realita. Kekuatan ayat-ayat suci Al-Qur’an adalah ilmu yang riil yang bisa dibuktikan seperti hukum-hukum fisika, kimia dan sebagainya. Hanya martabat dan dimensinya jauh lebih tinggi, mutlak dan sempurna.[15]

Untuk itu, pada tanggal 27 November 1956, Syaikh Kadirun Yahya mendirikan Akademi Metafisika di bawah ‘Yayasan Akademi Metafisika’, di Medan. Kemudian pada tahun 1980 ‘Yayasan Akademi Metafisika’ diubah namanya menjadi ‘Yayasan Prof. Dr. H. Kadirun Yahya’. Tujuan dari Yayasan ini adalah:

Mengembangkan pendidikan dan pengajaran secara modern, baik pendidikan umum maupun pendidikan Agama Islam dari tingkat terendah sampai perguruan tinggi yang bersifat akademis maupun universitas;
Mengembangkan ajaran Agama Islam berdasarkan Al Qur’an, Al Hadist dan Tasawuf Islam;
Pengembangan ilmu ketabiban/kedokteran antara lain terhadap penyakit “lever abscess”, “lung abscess”, narkotika, kanker kulit, kanker payudara, hemarrhoide (wasir), jantung, tumor, batu empedu, pankreas, dan lever, prostad, AIDS, mentruasi bulanan yang tidak pernah berhenti selama 8 tahun, dan berbagai penyakit aneh serta ganjil yang tidak dapat disembuhkan secara medis sebab mengandung unsur ghaib dan lain lain.[16]
Pembinaan kerohanian bagi masyarakat dan generasi muda yang “sesat jalan”, putus sekolah, kecanduan narkotika dan minuman keras, kenakalan remaja dan memberikan kepada mereka pendidikan formal/informal.[17]
Terbinanya insan yang berpengetahuan tinggi baik duniawi maupun akhirati dalam suasana lingkungan yang sehat dan lestari.[18]
Bidang bidang lainnya meliputi ketatanegaraan, menumpas Atheisme/komunisme, kemasyarakatan dan lain lain.
Salah satu kegiatan utama dari Yayasan Prof. Dr. H. Kadirun Yahya adalah mendirikan rumah ibadah (surau-surau) untuk mengamalkan dzikrullah/ melaksanakan latihan mental spiritual (i’tikaf/suluk)[19]. Sampai tahun 2000-an sudah berdiri 700-an surau/tempat wirid di seluruh Indonesia, 15 (lima belas) di Malaysia, dan 1 (satu) di Amerika Serikat.[2]

Untuk membentuk hubungan antar surau di tingkat pusat dibentuk Badan Koordinasi Kesurauan (BKK), sedang tingkat propinsi dibentuk Badan Kerjasama Surau (BKS). Selanjutnya Badan Koordinasi Kesurauan (BKK) membentuk suatu badan yang disebut Pusat Kajian Tasawuf, untuk mengangkat Ilmu Metafisika ke permukaan, khususnya Tasawuf dan Tarekat dengan mengadakan seminar, ceramah, dialog dan sebagainya.

Semasa hidupnya, Prof. Dr. H. Saidi Syaikh Kadirun Yahya sering tampil sebagai pemakalah seminar-seminar nasional dan internasional yang mengedepankan tema seputar Teknologi Al -Qur’an dalam Tasawuf Islam. Tercatat ada 15 kali seminar nasional dan 2 kali seminar internasional yang melibatkan Prof. Dr. H. Saidi Syaikh Kadirun Yahya sebagai narasumber. Semua karya-karyanya menegaskan apa yang telah dituliskan oleh guru-gurunya dalam ijazah kemursyidan, bahwa Prof. Dr. H. Saidi Syaikh Kadirun Yahya adalah ‘Guru para cerdik pandai’.

Sumber Data Profil Sang Guru dari Wikipedia. Yang sudah mendapatkan approval dan verifikasi dari ahlul bait Sang Guru.